Harta Wakaf Kita, Menjadi Milik Allah

Harta Wakaf Kita, Menjadi Milik Allah

(Dari Catatan Kecilku: “Yang Belum Selesai”)

“Masya Allah, sungguh sangat menakjubkan”, itulah reaksi spontan saya ketika dulu pertama kali mengetahui pengertian dari WAKAF. Betapa tidak, bagaimana ada dalam pemahaman kita selama ini bahwa manusia dapat memberikan harta miliknya kepada Allah untuk kemudian itu menjadi hak dan milik Allah SWT? Bukankah selama ini yang kita fahami adalah Allah yang memberikan rezeki, harta dan kekayaan kepada manusia?

Kali ini yang kita dengar, (bahkan mungkin sebagian dari kita baru pertama kali ini mendengar), justeru hal yang sebaliknya terjadi, yakni kita manusia yang memberikan harta dan kekayaan yang kita miliki kepada Allah dan itu menjadi milik Allah.

Tidakkah ini membuat kita seakan-akan ‘shock’, bagaimana itu mungkin…, bagaimana itu mungkin…bagaimana itu mungkin? Kita memberi harta kita kepada Allah? Are you kidding me?

Jangan panik, bawalah bertenang, tarik nafas dalam-dalam, karena itu memang mungkin. Bahkan, dalam ayat-ayat Al-Qur’an Allah sendiri secara eksplisit dan tegas mengatakan ‘tolonglah’ Allah, sebagaimana firman-NYA, antara lain,

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong Allah, niscaya Dia akan menolong kamu dan meneguhkan kedudukanmu”. [Surah Muhammad (47):7]

Juga firman-Nya yang lain,

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang-orang yang menolong-NYA. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat dan Maha Perkasa” [SurahAl Hajj (22):40]

Sungguh, Allah secara tegas dan jelas menyampaikan hal tersebut kepada orang-orang yang beriman agar mudah untuk difahami walaupun makna yang tersirat dan terkandung di dalam ayat-ayat Allah tersebut sangat dalam, sehingga memerlukan kajian untuk dapat meresapi maknanya. Namun kata kuncinya adalah iman. Bagi orang yang beriman, seruan Allah ini adalah sesuatu yang selalu mereka rindukan, sesuatu yang mereka selalu tunggu-tunggu, sesuatu yang ingin mereka untuk mengerjakan dan melaksanakannya segera. Adalah suatu kenikmatan dan kehormatan bagi orang-orang yang beriman bila Allah menyeru atau memanggil mereka dengan seruan dan panggilan sedemikian. Ini adalah juga merupakan wujud dari bentuk keimanan, ketaqwaan dan kepatuhan mereka kepada Allah SWT.

Bagi orang-orang yang beriman, apa saja yang sudah diberikan oleh Allah kepada mereka adalah merupakan kenikmatan yang teramat sangat dan tiada bandingannya. Pertama sekali, mereka sangat bersyukur telah diberikan nikmat iman dan islam yang merupakan nikmat yang terbesar dan teragung. Kemudian mereka melihat diri mereka sendiri, melihat nikmat tubuh yang sempurna.

"Laqad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim". "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya".

Kemudian mereka melihat nikmat jantung, hati, ginjal, paru-paru, mata, telinga, mulut, hidung, tangan, kaki dan lainnya…., sungguh luar biasa. Apa yang terjadi bila salah satu saja dari semua yang ada di tubuh kita ini tidak berfungsi? Tidak pantaskah kita bersyukur? “Nikmat Allah yang mana lagikah yang kamu dustakan?”

Kemudian, orang-orang yang beriman itu melihat betapa besarnya nikmat harta dan kekayaan yang telah Dia berikan kepada mereka. Sebagiannya berlimpah dan melebihi dari apa yang mereka butuhkan. Namun Allah dengan Rahman dan Rahim-NYA tetap saja terus melimpahkan semua rezeki, harta, kekayaan dan nikmat tersebut. Oleh karena itu, tidakkah kita harus berterima kasih dan bersyukur kepada Allah atas pemberian-NYA ini semua? Attitude seorang mukmin yang baik adalah yang selalu bersyukur kepada Allah, to please Allah dan selalu menyambut seruan Allah.

Itulah hebatnya Allah, bagi orang-orang yang beriman dan cerdik, apa-apa yang diberikan oleh Allah itu justeru dapat mereka gunakan untuk menumpuk dan meningkatkan pahala dan amal sholeh mereka sendiri. Allah sendiri membuka pintu dan peluang untuk itu lebar-lebar.

Dimanakah pintu-pintu yang terbuka lebar itu? Nah, salah satunya adalah amalan WAKAF. Wakaf adalah suatu amalan mu’amalah yang sangat tinggi nilainya di sisi Allah SWT dan merupakan wujud ketinggian iman dan ketaqwaan seseorang. Dianya juga merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah dan rasa sayang kita pada diri kita sendiri,

"Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". [Surah Lukman: 12]

Kehebatan dari wakaf ini adalah, bila kita mewakafkan harta milik kita, itu berarti kita telah menyerahkan harta yang kita wakafkan itu menjadi MILIK Allah. Ya, memang demikian, harta yang kita wakafkan itu adalah menjadi milik Allah. Kita mengalihkan hak kepemilikan harta tersebut dari kita menjadi milik Allah. Tidakkah ini sesuatu yang mengejutkan? Seperti yang kita bicarakan pada awal tulisan ini? Allah mengakui adanya transaksi yang sedemikian rupa. Sungguh Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Apakah yang ada dalam hati dan fikiran kita bila kita menyerahkan harta milik kita menjadi milik Allah? Tidakkah akan timbul rasa senang dan bahagia yang teramat sangat?. Kalau kita merasa senang apabila dapat memberikan hadiah atau presents kepada bos atau atasan kita yang membuat bos dan atasan kita senang dan menjadi suka sama kita, apakah lagi ini hadiah atau ‘present’ yang kita berikan kepada Sang Khaliq pencipta kita Allah Azza wa jalla robbul ‘alamiin? Allah akan merasa senang dengan hadiah yang kita berikan kepada-NYA, yang nota bene sebenarnya adalah juga asalnya adalah milik-NYA sendiri, namun kita mendapatkan kredit, pujian serta pahala dari-NYA dengan tindakan dan sikap kita yang dipandang-NYA sangat mulia itu.

Itulah dia wakaf, yaitu kita menyerahkan harta kita menjadi milik Allah SWT. Oleh karena itulah harta yang diwakafkan itu tidak boleh kita ambil atau kurangin ‘ain, nilai atau substansinya. Oleh karena itulah harta wakaf itu harus kekal dan lestari nilainya selamanya, tidak boleh berkurang. Harta wakaf ini tidak boleh diwariskan, tidak boleh dihibahkan, tidak boleh dikurangi jumlahnya. Karena apa? Karena harta yang kita wakafkan tersebut itu adalah sudah menjadi milik Allah. Apabila sudah menjadi milik Allah, tentunya kita tidak bisa mengambilnya.

Lalu apa manfaat dari harta yang kita wakafkan tersebut? Yang pertama adalah, kita mendapatkan ganjaran dan pahala yang sangat tinggi dan besar dari Allah SWT. Pahala tersebut akan terus mengalir abadi tanpa putus sampai sekalipun kita telah meninggal dunia. Sungguh, kini kita dapat melihat betapa adilnya Allah SWT, Dia tahan nilai harta wakaf kita harus tetap, tidak boleh diambil dan dikurangi, tapi dalam satu sisi dia balas dengan pahala yang juga yang abadi, tetap mengalir dan tidak pernah berkurang. Menakjubkan sekali…, seharusnyalah kita menitikkan airmata ketika menyadari hal ini sekarang…, ketika kita sama-sama membaca tulisan ini. Betapa besarnya rahasia Allah yang tersembunyi yang kadang-kadang kita tidak sadari. Betapa besarnya juga kasih sayang dan rahmat Allah yang Dia berikan kepada kita.

Lalu manfaat apa lagikah yang kita dapatkan dari berwakaf selain dari pahala yang besar dan terus mengalir sekalipun kita telah meinggal dunia sampai pada saat yaumul hisab (hari dimana semua amal baik dan buruk ditimbang) di hadapan Sang Hakim Yang Maha Adil dan Bijaksana?

Sekalipun harta wakaf nilainya harus tetap abadi, tidak boleh berkurang dan lainnya seperti yang disebutkan di atas tadi, namun kita dapat menggunakan dan menikmati dari hasil dan manfaat yang dihasilkan oleh harta wakaf tersebut. Misalnya, kita mewakafkan sebidang tanah, maka setelah diwakafkan, tanah tersebut menjadi milik Allah, siapapun tidak boleh lagi mewariskan, menghibahkan, menghadiahkan atau mengurangi sebagian kecil apapun tanah tersebut. Tanah tersebut harus kekal dan abadi nilainya. Namun kita bisa memanfaatkan tanah tersebut untuk apa saja yang mendatangkan manfaat baik itu untuk syiar agama, pendidikan, kemashalahatan umat, misalnya dijadikan lahan pertanian yang ditanami pangan ataupun buah-buahan. Maka hasilnya ini boleh dan bisa kita dinikmati. Demikian juga bisa didirikan bangunan di atasnya untuk sekolah, masjid, Islamic center, rumah sakit atau fasilitas umum serta hal-hal yang bermanfaat lainnya.

Kemudian bila kita berwakaf dengan uang tunai, maka uang tunai dari wakaf tersebut harus kekal dan tetap jumlahnya, tidak boleh berkurang karena setelah diwakafkan dia sudah menjadi milik Allah. Namun kita boleh dan bisa menikmati manfaat yang bisa dihasilkan oleh uang yang kita wakafkan tersebut. Misalnya, uang wakaf tersebut dijadikan modal usaha, investasi dan lainnya yang sesuai dengan syariat Islam. Maka hasil dari keuntungan investasi, usaha atau perniagaan dari wakaf uang tunai tersebut dapat kita nikmati.

Demikian juga halnya, bila Bapak, Ibu serta Sahabat-Sahabat sekalian berwakaf dengan uang tunai untuk pembelian tanah untuk pembangunan masjid kita di Houston, maka ketentuan, fungsi dan manfaatnya juga adalah sama. Uang tunai yang Bapak, Ibu serta Sahabat-Sahabat wakafkan tersebut nilainya adalah kekal abadi dan Bapak, Ibu serta Sahabat sekalian telah menyerahkan kepemilikannya menjadi milik Allah. Subhanallah, siapakah yang tidak ingin menyerahkan harta miliknya kepada Allah? Sungguh, tidak akan bisa dibayangkan balasan yang akan diterima dari Allah SWT dengan sifat dan tindakan yang mulia yang telah Bapak, Ibu serta para Sahabat-Sahabat sekalian lakukan itu. Uang wakaf yang Bapak, Ibu dan para Sahabat berikan itu akan memberikan manfaat yang besar kepada umat Islam yang di dalamnya nanti dapat melaksanakan ibadah dengan tenang dan nyaman, tempat dimana semuanya dapat belajar agama dan ilmu, tempat untuk kita mendidik anak-anak generasi kita agar tetap teguh akidah dan imannya setelah sepeninggalan kita nanti. Tempat di mana kita umat Islam bisa memberikan kontribusi yang besar bagi seluruh masyarakat di sekitar kita dan juga seluruh umat manusia at large.

Oleh karena itulah, mari kita manfaatkan kesempatan emas ini sebaik-baiknya. Yakinlah, bahwa ini semua sudah menjadi qadar dan takdir kita, sudah merupakan design dan rencana besar dari Allah Azza wa jalla. Allah sudah merencanakan bahwa pada tahun sekian, bulan, minggu, hari dan tanggal sekian dan oleh orang-orang yang hidup pada waktu itu akan mendirikan masjid, baitullah, rumah Allah di Houston. Allah telah menuliskannya di Lauful Mahfudz sejak jama azali dulu, sebelum tinta kering akan ketentuan qada’ dan qadar yang akan terjadi dan yang akan dilakukan oleh masyarakat muslim Indonesia untuk membangun masjid di Houston. Tulisan tersebut masih tertera lagi dan kita tentunya tidak ingin karena kekhilafan dan kecuaian kita dalam memahami makna iman kepada qada’ dan qadar akan ‘menghapus’ tulisan yang sudah ada sejak tinta Allah belum kering ketika menulisnya dulu kala sejak jaman azali lagi.

Dengan kekuasaan Allah SWT, Dia dapat melakukan apa saja yang Dia kehendaki. Dengan pertolongan-NYA segala sesuatunya tetap akan dapat terwujud, Kun faya kun, Jadilah kata Allah, maka apapun akan terjadi. Bila Allah menghendaki masjid kita tetap akan berdiri di Houston, maka itu pasti akan berdiri. Suka atau tidak suka, mendukung atau tidak mendukung, perduli atau tidak perduli, menentang atau tidak menentang, seperti yang pernah disampaikan oleh Ust. Muhammad Joban pada ceramahnya di akhir bulan Januari 2013 lalu di Houston, yang namanya masjid, rumah tempat orang untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Sang Khalik penciptanya, yang dibangun dengan niat suci, keimanan dan ketaqwaan, pasti akan tetap berdiri, pasti akan tetap terwujud. Bagi kita orang-orang yang beriman, ketentuan tersebut adalah sudah pasti dan kita yakini. Oleh karena itu, yang harus sama-sama menjadi perhatian kita adalah apakah kita akan ikut serta menjadi bagian dari rencana Allah tersebut. Atau kita akan menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin tidak akan berulang lagi. Dimana kita akan menyesal bila saatnya tiba kita harus meninggalkan dunia ini dengan harta kekayaan yang berlimpah yang kita tinggalkan namun sama sekali tidak dapat membantu kita. Penyesalan yang tiada terkira, seperti kisah nyata yang diceritakan oleh Ust. Muhammad Joban yang terjadi di komunitas muslim beliau di Seattle beberapa waktu lalu.

Saya jadi teringat dengan ceramah seorang ulama yang mengutip do’a Nabi Daud, yaitu: “Ya Allah, janganlah jadikan hartaku harta yang mengenyangkan orang lain”. Konteks dari do’a Nabi Daud ini harus kita fahami dengan baik, karena yang dimaksudkan oleh Nabi Daud adalah dia memohon kepada Allah agar rezeki dan harta yang Allah berikan kepada dia dan keluarganya tidak akan menjadi beban baginya bila dia sudah meninggal dunia. Dimana harta kekayaan yang dia tinggalkan hanya membuat orang lain kenyang menikmati hartanya, memperebutkan harta peninggalannya sementara dia sendiri disiksa dan tersiksa oleh karenanya di alam kubur. Selama hidup di dunia menumpuk harta sehingga berlimpah ruah, sementara lupa untuk berinfak, bersadaqah, zakaf ataupun wakaf serta membantu saudara dan orang-orang yang membutuhkan serta membantu syiar agama Allah. Melalui do’a inilah Nabi Daud mohon kepada Allah untuk terhindar darinya.

Jadikanlah harta kekayaan yang kita mikili, walaupun sedikit, apalagi yang banyak dan berlimpah, sebagai teman amal kita bila kita sudah meninggalkan dunia yang fana ini. Harta, uang dan kekayaan yang kita sumbangkan, infakkan, sadaqahkan, zakatkan dan wakafkan itulah yang menjadi teman amal kita nanti di alam kubur dan akhirat nanti. Sedangkan yang kita tinggalkan tidak lagi menjadi milik kita, melainkan telah menjadi hak dan milik orang lain. Putuslah amal anak Adam itu bila dia telah meninggal dunia, kecual tiga, yaitu, ilmu yang dia ajarkan; harta yang dia sadaqahkan; dan anak sholeh yang mendo’akannya.

Marilah kita membuka hati kita, bila sulit untuk membukanya, renungkanlah semua apa yang Allah berikan kepada kita, kemudian bayangkan apa yang terjadi dan yang akan kita alami bila suatu waktu Allah menarik harta itu dari kita, atau yang lebih menakutkan lagi apabila Allah memisahkan dan menarik kita dari harta melimpah yang kita miliki, membawa kita pergi jauh ke alam barzakh meninggalkan harta yang selama ini kita sibuk siang malam mengumpul-ngumpulnya sementara kita belum sempat untuk beramal, berinfak, sadaqah, zakat ataupun wakaf dengannya….

Marilah kita renungkan bersama-sama, yang mana bila hati kita telah lembut dan terbuka lebar, itu adalah sebagai tanda kasih sayang serta rahmat dan hidayah dari Allah telah hinggap pada diri dan hati kita. Manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya…

Bila Bapak, Ibu serta sahabat semua ingin berbuat baik, ingin beramal dengan harta yang kita miliki, Alhamdulillah tidak perlu jauh-jauh melangkah untuk mewujudkannya. Panitia pembangunan masjid kita di Houston telah membuka kesempatan beramal ini. Silahkan untuk menghubungi segera panitia wakaf tunai untuk penjelasan lebih lanjut dan detail.

Semoga cita-cita kita bersama, tentunya dengan selalu berharap akan mahgfirah, ridho, rahmat dan hidayah dari Allah SWT, dapat terwujud. Demi untuk tetap tegaknya syiar dan risalah Agama Allah di muka bumi ini. Demi untuk kebaikan seluruh umat manusia di dunia dan akhirat.

Jari sepuluh kususun rapi mohon ampun dan maaf, semoga Bapak, Ibu serta Sahabat sekalian berkenan dengan catatan kecilku yang jauh dari sempurna ini. Namun pesannya tentu jelas, semoga Bapak, Ibu serta Sahabat sekalian yang membaca tulisan ini, yang saya sangat kenal akan kedermawanan dan kebaikan hatinya, kecintaan dan perjuangannya dalam menegakkan syiar agama Islam ataupun juga yang hatinya memiliki kecintaan akan ajaran Islam, ataupun yang ingin selalu beramal dan berbuat baik yang ingin mengharapkan ampunan, rahmat dan ridho dari Allah SWT, dapat bersama-sama menyisihkan sebagian kecil saja dari rezekinya yang diberikan oleh Allah SWT untuk dapat berwakaf untuk pembelian tanah dan pembangunan masjid kita di Houston. Wakaf yang Bapak, Ibu serta Sahabat berikan akan sangat besar sekali dampak dan manfaatnya bagi seluruh umat. Janganlah pernah menunda atau berfikir bahwa mungkin infak dan wakaf Bapak, Ibu serta Sahabat sekalian terlalu kecil untuk diberikan. Percayalah, mungkin saja wakaf tersebut yang ditunggu-tunggu oleh Allah SWT selama ini sebagai syarat Dia untuk memberikan ganjaran yang lebih besar lagi kepada Bapak, Ibu dan Sahabat sekalian. Dan juga, mungkin saja wakaf tersebut juga adalah yang menyebabkan lengkapnya kemampuan kita untuk dapat membeli lahan tanah yang kita impi-impikan selama ini. Wallahu 'alam bishshawab, hanya Allah Yang Maha Mengetahui dan Yang Maha Bijaksana...

Salam ta'zim,

 

Dari Catatan Kecilku: “Yang Belum Selesai”

Dalam Program Gerakan Wakaf Pembangunan Masjid dan Community Center Houston

 

DONATE NOW

Get Updates